Posted by: kholis12 | 15/01/2010

Mahkota Cinta

Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor

Bahru. Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa. la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir. Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.

Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,

Malaysia. “Baru pertama ke Malaysia ya Dik?” tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda. Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.

“Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?”

jawabnya balik bertanya. “Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia.”

“Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak.”

“Tidak. Sejak awal 2001.” “Kerja ya Mbak?”

“Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?”

Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.

“Kok malah bengong Dik.”

“E… tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua

duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi.”

“Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di

mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya.”

“Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak

kerja di mana?”

“Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang

Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bias membantu. O ya kenalkan, nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari.” Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya. Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu. “Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh temanteman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein.” “Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?”

Pengen Baca Cerita Selanjutnya silakan klik Download


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: